Di kalangan masyarakat suku Dayak sendiri untuk menggambarkan alat musik
tradisional kebanggaan mereka tersebut, terkenal sebuah ungkapan, Sape’
benutah tulaang to’ awah. Apabila diartikan secara harfiah, ungkapan
tersebut bermakna, “Sampek bisa meremukkan tulang-belulang hantu yang
gentayangan”. Mungkin terdengar berlebihan namun suara yang dihasilkan
alat musik petik yang satu ini memang mampu membuat merinding yang
mendengarnya karena begitu menyentuh perasaan.
Dalam bahasa lokal, sampek dapat diartikan “memetik dengan jari”.
Sebagai alat musik tradisional, sampek tidak hanya berfungsi sebagai
sarana hiburan tapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan
masyarakatnya. Alat musik ini jelas berperan dalam pelaksanaan
upacara-upacara adat. Sampek sering dimainkan pada saat pesta adat dan
gawai padai (acara syukuran atas hasil panen padi). Sampek biasanya
dimainkan minimal 1 orang atau bisa juga 2 hingga 3 orang.
http://gpswisataindonesia.blogspot.com/2015/02/alat-musik-tradisional-kalimantan-timur.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar